Lusi Puspita Sari

Pages

  • Beranda

Total Tayangan Halaman

About Me

Foto Saya
Lusi Puspita Sari
Aku adalah aku
Lihat profil lengkapku

Followers

Blog Archive

  • ►  2017 (3)
    • ►  Maret (3)
  • ▼  2013 (4)
    • ►  Juli (1)
    • ▼  Maret (3)
      • ANALISIS WACANA
      • MEDAN MAKNA
      • Pengertian Ilmu Faal, Segmental dan Suprasegmental
  • ►  2011 (3)
    • ►  Desember (3)
Minggu, 03 Maret 2013

MEDAN MAKNA


Harimurti (1982) menyatakan bahwa medan makna (semantic field, semantic domain) adalah bagian dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Umpamanya, nama-nama warna membentuk medan makna tertentu. Begitu juga begitu juga dengan nama perabot rumah tangga, istilah pelayaran, istilah olahraga, istilah perkerabatan, istilah alat pertukangan, dan sebagainya.

Kata atau unsure leksikal yang maknanya berhubungan dalam satu bidang tertentu jumlahnya tidak sama dari satu bahasa dengan bahasa lain, sebab berkaitan erat dengan kemajuan atau situasi budaya masyarakat bahasa yang bersangkutan. Nama-nama warna dalam bahasa Indonesia adalah cokelat, merah, biru, hijau, kuning, dan abu-abu, dalam hal ini putih dan hitam menurut fisika adalah bukan warna; atau lebih tepat, putih adalah kumpulan segala macamwarna, sedangkan hitam adalah tidak ada warna sama sekali.
Kata-kata yang berada dalam satu medan makna dapat digolongkan menjadidua,yaitu termasuk golongan kolokasi dan golongan set.
Kolokasi (berasal dari bahasa Latin colloco yang berarti ada di tempat yang sama dengan) menunjuk kepada hubungan sintagmatik yang terjadi anta kata-kata atau unsure-unsur leksikal itu. Misalnya, pada kalimat Tiang layar perahu nelayan itu patah dihantam badai, lalu perahu itu digulung ombak, dan tenggelam beserta isinya, kita dapati kata-kata layar, perahu, nelayan, badai, ombak, dan tenggelam yang merupakan kata-kata dalam satu kolokasi; satu tempat atau lingkungan. Jadi, kata-kata yang berkolokasi ditemukan bersama atau berada bersama dalam satu tempat atau satu lingkungan. Kata-kata layar, perahu, badai, ombak, dan tenggelam di atas berada dalam satu lingkungan, yaitu dalam pembicaraan mengenai laut.
Kolokasi merujuk pada hubungan sinmagtik karena sifatnya yang linear maka set menunjuk pada hubungan paradigmatik karena kata-kata atau unsur-unsur yang berada dalam suatu set dapat saling menggantikan. Suatu set biasanya berupa sekelompok unsur leksikal  dari kelas yang sama yang tampaknya merupakan satu kesatuan. Setiap unsur leksikal dalam suatu set dibatasi oleh tempatnya dalam hubungan dengan anggota-anggota dalam set tersebut. Misalnya, kata remaja merupakan tahap pertumbuhan antara kanak-kanak dengan dewasa; sejuk adalah suhu antara dingin dengan hangat. 
 Pengelompokan kata atas kolokasi dan set ini besar artinya bagi kita dalam memahami konsep-konsep budaya yang ada dalam suatu masyarakat bahasa. Pengelompokan kata atas kolokasi dan set dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai teori medan makna. Oleh karena itu secara semantik diakui bahwa pengelompokkan kata atau unsur-unsur leksikal secara kolokasi dan set hanya menyangkut satu segi makna. Makna seluruh tiap kata atau unsur leksikal itu perlu dilihat dan dikaji secara terpisah dalam kaitannya dengan penggunaan kata atau unsur leksikal tersebut di dalam pertuturan. Setiap unsur leksikal memiliki komponen makna masing-masing yang mungkin ada persamaannya dan perbedaannya dengan unsur leksikal lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Diposting oleh Lusi Puspita Sari di 13.22
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
Copyright © 2012 Lusi Puspita Sari |