Minggu, 03 Maret 2013
MEDAN MAKNA
Harimurti
(1982) menyatakan bahwa medan makna (semantic
field, semantic domain) adalah bagian
dari sistem semantik bahasa yang menggambarkan bagian dari bidang kebudayaan
atau realitas dalam alam semesta tertentu dan yang direalisasikan oleh
seperangkat unsur leksikal yang maknanya berhubungan. Umpamanya, nama-nama
warna membentuk medan makna tertentu. Begitu juga begitu juga dengan nama
perabot rumah tangga, istilah pelayaran, istilah olahraga, istilah
perkerabatan, istilah alat pertukangan, dan sebagainya.
Kata atau unsure
leksikal yang maknanya berhubungan dalam satu bidang tertentu jumlahnya tidak
sama dari satu bahasa dengan bahasa lain, sebab berkaitan erat dengan kemajuan
atau situasi budaya masyarakat bahasa yang bersangkutan. Nama-nama warna dalam
bahasa Indonesia adalah cokelat, merah, biru, hijau, kuning, dan abu-abu, dalam
hal ini putih dan hitam menurut fisika adalah bukan warna; atau lebih tepat,
putih adalah kumpulan segala macamwarna, sedangkan hitam adalah tidak ada warna
sama sekali.
Kata-kata yang
berada dalam satu medan makna dapat digolongkan menjadidua,yaitu termasuk golongan
kolokasi dan golongan set.
Kolokasi (berasal
dari bahasa Latin colloco yang berarti ada di tempat yang sama dengan) menunjuk
kepada hubungan sintagmatik yang terjadi anta kata-kata atau unsure-unsur
leksikal itu. Misalnya, pada kalimat Tiang layar perahu nelayan
itu patah dihantam badai, lalu perahu itu digulung ombak, dan tenggelam beserta
isinya, kita dapati kata-kata layar, perahu, nelayan, badai, ombak, dan
tenggelam yang merupakan kata-kata dalam satu kolokasi; satu tempat atau
lingkungan. Jadi, kata-kata yang berkolokasi ditemukan bersama atau berada bersama
dalam satu tempat atau satu lingkungan. Kata-kata layar, perahu, badai, ombak,
dan tenggelam di atas berada dalam satu lingkungan, yaitu dalam pembicaraan mengenai
laut.
Kolokasi merujuk pada
hubungan sinmagtik karena sifatnya yang linear maka set menunjuk pada hubungan
paradigmatik karena kata-kata atau unsur-unsur yang berada dalam suatu set
dapat saling menggantikan. Suatu set biasanya berupa sekelompok unsur
leksikal dari kelas yang sama yang
tampaknya merupakan satu kesatuan. Setiap unsur leksikal dalam suatu set
dibatasi oleh tempatnya dalam hubungan dengan anggota-anggota dalam set
tersebut. Misalnya, kata remaja merupakan tahap pertumbuhan antara kanak-kanak
dengan dewasa; sejuk adalah suhu antara dingin dengan hangat.
Pengelompokan kata atas kolokasi dan set ini besar
artinya bagi kita dalam memahami konsep-konsep budaya yang ada dalam suatu
masyarakat bahasa. Pengelompokan kata atas kolokasi dan set dapat memberikan
gambaran yang jelas mengenai teori medan makna. Oleh karena itu secara semantik
diakui bahwa pengelompokkan kata atau unsur-unsur leksikal secara kolokasi dan
set hanya menyangkut satu segi makna. Makna seluruh tiap kata atau unsur
leksikal itu perlu dilihat dan dikaji secara terpisah dalam kaitannya dengan
penggunaan kata atau unsur leksikal tersebut di dalam pertuturan. Setiap unsur
leksikal memiliki komponen makna masing-masing yang mungkin ada persamaannya
dan perbedaannya dengan unsur leksikal lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2009. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta:
Rineka Cipta.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar